Dampak Industri Perfilman Indonesia Di Masa Pandemi Covid-19

 


Dunia perfilman menjadi daya tarik tersendiri di masyarakat, dimana masyarakat dapat memperoleh informasi sekaligus hiburan dalam satu waktu. Namun sejak Covid-19 merebak di Indonesia, industri perfilman terkena imbasnya. Banyak film yang harus menunda premiernya bahkan harus terhenti pengerjaannya.

Pada tahun 2018 produksi film meningkat yaitu 138 film. Banyak film Indonesia yang menjadi tuan rumah sendiri, hal ini sudah menjadi cita-cita Indonesia dari dulu. Genre yang paling populer adalah drama, horor, komedi, dan thriller. Bioskop di tahun 2018 berjumlah 343 bioskop, 1.756 layar di 32 provinsi. Penonton bioskop di tahun 2018 naik 20% dari 2017 yaitu 51 juta penonton.

Pada tahun 2019 persebaran bioskop di beberapa daerah sangat tinggi. Hal ini membuat bioskop tidak hanya banyak jumlah bioskopnya tetapi juga jumlah layarnya bertambah banyak. Di tahun 2019 produksi film di Indonesia berjumlah 129 film dan 29 film diantaranya merupakan adaptasi dari novel. Jumlah penonton di setiap film juga banyak yang diatas 1 juta. Genre yang paling populer adalah superhero, drama, horor, dan komedi. Film terlaris di tahun 2019 adalah Dilan 1991 dengan penonton berjumlah 5.253.411.

Produksi film di tahun 2020 terpaksa harus berhenti karena adanya wabah Virus Covid-19. Joko Anwar (Sutradara) menyatakan “Sekitar 30 produksi berhenti dan kerugiannya mencapai 15 miliyar rupiah selama 3 bulan berhenti produksi.” [Youtube Let’s Talk dalam Kompas.com]. Pandemi Covid-19 ini membuat produksi film terhenti dan membuat bioskop berhenti beroperasi.

Produksi cara baru kemudian muncul, beberapa diantaranya yaitu produksi film on demand (sesuai permintaan) bisa menjadi alternatif dan pemanfaantan teknologi film (CGI) termasuk efek visual. Dalam pelaksanaan pembuatan film harus menggunakan protokol kesehatan, mengurangi jumlah kru film (pemain maupun pekerja), dan juga pengurangan lokasi syuting.

Di masa pandemi Covid-19 pekerja seni banyak yang terkena dampaknya. Pekerja seni yang paling banyak terkena dampak yaitu pekerja seni yang bekerja di sektor film video audio dibandingkan dengan sektor pekerja seni yang lain. Persoalan ini nggak hanya dihadapi oleh industri kreatif yang ada di Jakarta, tetapi di seluruh Indonesia.

Penulis : Nola Aisyah Subagiyo

Email : nola.aisyah16@gmail.com

Komentar